Minggu, 14 Februari 2010

SEJARAH TERBENTUKNYA ALAM MENURUT AL QURAN


Al Qur'an dan Kejadian Bumi Sebagai Lahan Dzikir dan Beramal


Agus Hendratno, MT. Staf dosen di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM Yogyakarta Pengasuh Matakuliah : Studi Islam Konstekstual (Pendidikan Agama Islam) untuk Teknik Geologi dan Teknik Geodesi Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberikan syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran ? (QS Yunus (10) : 3) Allah SWT menganugerahkan sesuatu yang sangat berharga kepada kita, yaitu akal yang mampu membuat kita dapat berpikir kritis dan logis. Agama Islam menempatkan akal sebagai perangkat untuk mengetahui hal-hal yag haq maupun yang bathil sehingga diharapkan manusia dapat menjadikan Islam dan kitabullah Al Qur’an sebagai rahmatan lil ‘alami.


Disamping akal, manusia juga diberi anugerah yang sangat besar berupa alam semesta, termasuk di dalamnya adalah bumi (litosfer, hidrosfera, atmosfer) dengan segala isinya yang diperuntukkan bagi manusia. Dalam Islam, pengertian alam semesta (khususnya kejadian bumi dan kehidupan di dalamnya), baik itu secara evolusi sejarah bumi atau revolusi, dinamis maupun statis, merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan beragama, dalam beribadah kepada Allah SWT. Dalam Al Qur’an, serta berbagai keterangan dari ahli tafsir, tidak pernah ada keterangan secara rinci dan sistematis mengenai teori modern tentang bagaimana pembentukan bumi (baca : proses dan materi geologi), berbagai aspek pemanfaatan geologi untuk kemaslahatan ummat manusia. Namun, pemeluk Islam dan beberapa ahli tafsir sangat meyakini dan percaya bahwa Al Qur’an telah banyak memberikan konsep makro tentang kejadian bumi beserta apa yang ada di dalamnya (baca : litosfer dan hidrosfer) maupun di antara bumi dan langit, sebagai media ruang atmosfer dan hidrosfer. Mengingat Al Qur’an diwahyukan kepada suatu bangsa yang buta huruf, yang belum mempunyai pengetahuan dan peradaban, sehingga Al Qur’an hanya memberikan konsep makro, bukan konsep / teori / pemahaman rinci dari suatu ilmu yang akan diajarkan kepada manusia. Bagi mereka cukup konsep makro dan menggunakan suatu bahasa pada fakta-fakta ilmiah dari berbagai proses kebumian. Proses kebumian sebagai hukum alam (Sunatullah) bahkan dapat dikatakan sebagai Firman Allah yang tersebar di alam semesta ini selalu terpadu (saling melengkapi) dengan ayat-ayat Al Qur’an. Selain itu, Al Qur’an diwahyukan pada suatu masa ketika pengetahuan ilmiah modern belum diketahui secara meluas oleh bangsa-bangsa di dunia pada saat itu. Sebagai kitab yang diturunkan paling akhir ini, Al Qur’an harus memberi petunjuk kepada ummat manusia sampai akhir jaman, sampai alam semesta ini hancur oleh proses kiamat. Sehingga Al Qur’an senantiasa mampu menuntun setiap perkembangan peradaban ummat manusia dalam setiap jaman yang berbeda. Alam semesta ciptaan Allah SWT dari lingkungan tempat kita hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Manusia yang beriman diberi tugas untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, dengan tugas utamanya memakmurkan bumi, yang intinya meliputi : Al Intifa’ : Mengambil manfaat dan mendayagunakan sebaik-baik-Nya. Al I’tibar : Mengambil pelajaran, memikirkan, mensyukuri, seraya menggali rahasia-rahasia di balik alam ciptaan Allah. Al Ishlah : Memelihara dan menjaga kelestarian alam sesuai dengan maksud Sang Pencipta, yakni untuk kemaslahatan dan kemakmuran manusia, serta ttap terjaganya harmoni kehidupan alam ciptaan Allah SWT. Proses penciptaan alam semesta ini sepenuhnya berada dalam kendali dan perintah Maha Pencipta yang memberikan bentuk yang sempurna. Hukum alam dan gejala-gejala berjalan secara teratur dan meliputi ruang yang sangat luas. Bahkan unsur-unsur alam, mineral dan batuan sekaliannya dalam alam semesta ini berada dan tunduk pada pola yang sama. Keserasian dan keseimbangan serta kesempurnaan ini menurut Al Qur’an adalah refleksi dari tanda-tanda kekuasaannya. Ayat-ayat Al Qur’an merupakan firman-firman Allah yang menjelaskan secara jelas tentang interaksi kehidupan manusia dengan alam semesta. Konsep-konsep Al Qur’an merupakan konsep-konsep yang bersifat umum dan universal yang membutuhkan analisis selanjutnya, dan manusia bertugas menterjemahkan dan mengambil hikmah dari ayat-ayat tersebut. Firman Allah mengenai kejadian bumi mencakup perintah kepada manusia untuk berjalan di muka bumi agar kita mengerti proses kejadian alam semesta termasuk proses dan materi bumi di dalamnya. Segala sesuatu yang mencakup mekanisme pembentukan kulit bumi (litosfer), yang mengungkap potensi sumberdaya bumi, mengungkap potensi pesisir dan laut, gelombang laut dan gunung-gunung, siklus hidrologi hingga air tanah dalam bumi, serta tentang kehancuran (bencana) alam semesta telah diungkap dalam Al Qur’an secara makro. Al Qur’an telah menginformasikan banyak hal tentang proses dan materi bumi kepada kita yang mengimani kebenaran ayat-ayat Allah baik yang tersirat di alam semesta maupun tersurat dalam lembaran Al Qur’an. Firman Allah dalam QS Al Ankabut (29) : 20, yaitu : Katakanlah, berjalanlah kalian di muka bumi maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya….., lalu Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Perintah tersebut menunjukkan keharusan untuk melalukan observasi (penyelidikan / penelitian ilmiah) di muka bumi, melakukan pengamatan, membuat analisis, memahami dan mencoba melakukan rekonstruksi tentang proses dan materi kebumian tersebut, serta tentang berbagai fenomena ciptaan Allah SWT di muka bumi ini. Perintah tersebut juga dijelaskan dalam Firman Allah lainnya, yaitu QS Al Alaq : 1 (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan ) Al Qur’an mendorong manusia untuk selalu berpikir dan merenungkan tentang proses-proses terbentuknya bumi. Allah menciptakan bumi melalui suatu proses yang bertahap, yaitu dalam enam masa, dimana hal ini bukan berarti bahwa Allah tidak mampu membuat alam semesta ini sekaligus, karena sesungguhnya tidak ada kesulitan sama sekali bagi Allah untuk menciptakan sesuatu. Bagi Allah hanya cukup mengatakan Kun fayakuun, maka terciptalah sesuatu yang Dia inginkan, seperti dikatakan oleh Allah dalam QS Yunus (10) : 3, yaitu : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberikan syafa’at kecuali sesudah izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran ? Allah menciptakan bumi dan segala isinya, sehingga Dia telah memberikan banyak hal yang tidak terbatas untuk dipelajari oleh umat manusia. Dari apa yang telah diberikan Allah kepada umat manusia adalah suatu nikmat, dan bagi umat manusia yang berpikir hendaklah dapat mengambil pelajaran dalam segala sesuatunya. Hal ini dimaksudkan agar manusia dapat bertahan hidup dari apa yang telah diberikan oleh Allah, dan segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah adalah tidak sia-sia. Dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang mempunyai kaitan erat sehubungan dengan ilmu geologi, misalnya mengenai proses-proses terbentuknya bumi, terbentuknya gunung, dan lain-lain. Kebanyakan ayat tentang bumi didominasi oleh topik tentang penguasaan dan pemilikan bumi dan seisinya secara mutlak oleh Allah SWT, seperti dalam QS An Nisaa’ (4) : 131, yaitu : Dan milik Allah, apa yang di langit dan apa yang ada di bumi, ... Penjelasan Al Qur’an juga memberikan ilustrasi pada permasalahan penciptaan serta pemeliharaan bumi oleh Allah. Disamping itu juga tentang kerusakan bumi, isyarat ilmu kebumian, kiamat, dan lain-lain. Tetapi sebagian besar darinya menyebutkan tentang penciptaan bumi dan penghamparannya, seperti telah diwahyukan oleh Allah SWT dalam QS Ar Ra’du (13) : 3, yaitu : Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan di atasnya gunung-gunung dan sungai-sungai. Dan jadikan dari tiap-tiap buah-buahan sepasang-sepasang. Dia menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. Dalam ayat tersebut dijelaskan mengenai bagimana Allah menciptakan bumi, yang di dalamnya termasuk gunung dan sungai. Pembentukan gunung dan sungai dalam ilmu geologi dikontrol terutama oleh proses eksogenik dan proses endogenik. Proses endogenik adalah proses dinamika bumi yang berasal dari dalam bumi, seperti akumulasi energi yang menyebabkan gempabumi, tekanan magma keluar permukaan bumi yang menyebabkan letusan gunungapi, tekanan gaya-gaya pembentuk perlipatan – patahan – perlapisan bumi, munculnya magma ke permukaan bumi, arus konveksi yang menggerakkan pemekaran tengah samudera atau tumbukan antar-lempeng benua, serta subduksi antar-lempeng benua dan samudera. Sedangkan proses eksogenik adalah proses dinamika bumi yang berlangsung di permukaan bumi, seperti : aliran sungai, erosi dan sedimentasi, abrasi, banjir dan gerakan tanah. Oleh karena itu, pemahaman geologi meliputi bagaimana rumitnya dan kompleksnya proses-proses geologi tersebut, maka kita akan semakin merasa betapa besarnya kekuasaan Allah SWT, yang mampu menciptakan segala sesuatu yang bahkan masih di luar jangkauan pemikiran dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Proses geodinamika yang selalu terjadi di bumi ini, termasuk di dalamnya proses pergerakan lempeng, terungkap pada ayat berikut ini : QS An Naml (27) : 88, yaitu : Dan kamu lihat gunung-gungung itu, kamu sangka dia tetap di tempat, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ayat tersebut memberikan ilustrasi pada kejadian hari kiamat. Disamping itu, juga dapat dimaknai bahwa proses pergerakan bumi yang terjadi bila ditinjau dari segi keilmuan geologi, disebabkan oleh adanya tenaga dari dalam bumi yaitu berupa arus konveksi yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng, yang kemudian akan menyebabkan adanya tumbukan dan pemekaran (konvergen dan divergen) pada lempeng benua maupun lempeng samudera. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut pada saat tumbukan maupun subduksi, dapat membentuk deretan gunungapi (seperti : deretan gunungapi di kepulauan Indonesia – Philipina – Jepang) maupun pegunungan (seperti : pegunungan Himalaya). Oleh sebab itu, dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa : “gunung itu berjalan”. Proses ini terus berlanjut mulai dari awal terbentuknya bumi sampai sekarang, yang relatif membentuk suatu siklus, yang memakan waktu yang sangat lama. QS Ath Thuur (52) :10, Dan gunung benar berjalan. Selain itu, juga dikatakan dalam Al Qur’an mengenai penghamparan bumi dan penciptaan gunung, yaitu : QS Al Hijr (15) :19, Dan Kami menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukurannya. QS Qaaf (50) : 7, Dan Kami hamparkan bumi itu, dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Hubungan dari ayat-ayat tersebut di atas dengan ilmu geologi, yaitu terutama dalam bentuk roman muka bumi (morfologinya), dan vegetasi yang hidup di atasnya sebagai penciri ketinggian topografi (ditumbukannya segala sesuatu menurut ukurannya, dimana adanya morfologi yang khusus untuk roman muka bumi tertentu, seperti gunung, sungai, dataran, dan lain sebagainya, serta ekosistem yang hidup di dalamnya. Mengenai ayat-ayat yang berhubungan dengan lautan, seperti dikatakan dalam ayat berikut ini : QS Ar Rahman (55) :19 – 20, Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampauinya masing-masing. Maksud kedua ayat tersebut dapat memberikan ilustrasi mengenai terusan Suez dan terusan Panama. Dikatakan bahwa ada dua laut yang terpisah karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting ini tidaklah diperlukan, sehingga tanah tersebut dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan tersebut. Mengenai hal pernyataan ‘kedua lautan’ tersebut adalah oleh aktivitas manusia yang hanya sebatas kemampuannya menimbun atau menggali tanah untuk memisahkan atau menyatukan laut. Tetapi, yang paling berkuasa dalam pembentukan laut itu sendiri hanyalah Allah SWT. Ayat lain yang berhubungan dengan kuasa Allah SWT terhadap lautan, yaitu : QS Asy Syu’araa’ (26) : 63, Lalu kami wahyukan kepada Musa : “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”, maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung-gunung yang besar. Atas izin Allah SWT, laut dapat terbelah oleh tongkat Nabi Musa a.s. Beberapa ahli mencoba mengilustrasikan secara logika mengenai kejadian tersebut, yaitu ada yang mengatakan bahwa pada saat itu terjadi proses glasiasi global (peng-es-an), sehingga laut menjadi beku, dan dapat dilewati oleh Nabi Musa a.s. dan kaumnya pada saat itu. Perjalanan Nabu Musa a.s. menyeberangi laut yang membeku sampai di bagian daratan lainnya, kemudian diikuti pengejaran musuhnya (golongan Fir’aun) melalui penyebarangan yang sama. Saat pengejaran musuhnya melakukan penyebarangannya tersebut, terjadi pencairan laut yang membeku (pemanasan iklim setempat), kelompok Fir’aun tersebut tenggelam dalam laut yang diseberangi. Asy. Syu’araa’ (26) : 66 (kemudian kami tenggelamkan golongan yang lain – golongan Fir’aun dan pengikutnya) Tetapi ilustrasi tersebut sebagai salah satu bentuk usaha pencarian makna ke-Maha Besar-an Allah pada kejadian alam yang terjadi saat pengejaran Musa oleh kelompok Fir’aun. Wallahu a’lam bisshowab. Kalau dicermati lebih jauh, isyarat-isyarat ilmu kebumian (geologi) dalam Al Qur’an masih bersifat sangat umum. Hal ini nampak terlihat semangat Al Qur’an yang membuka ruang yang sangat luas dan mendorong ahli geologi untuk menggali lebih detail mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu geologi, baik itu hal-hal yang sudah terungkap maupun yang belum. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan umum, tentunya ilmu kebumian (geologi) juga mempunyai relasi yang sama dengan Al-Qur’an sebagaimana ilmu pengetahuan alam secara umum. Artinya, di dalamnya juga berlaku prinsip bahwa isyarat-isyarat tentang ilmu kebumian tidak bisa langsung begitu saja ditafsirkan sesuai dengan topik-topik tertentu dalam geologi, seperti stratigrafi, sejarah geologi, geomorfologi, tektonik, dan lain-lain. Seperti telah dikutip dari QS An Naml (27) ayat 88 tersebut di atas, sebagian ahli geologi mungkin sudah ada yang menafsirkan hubungan antara tektonik lempeng dengan ayat tersebut. Tetapi penafsiran tersebut masih bermakna berupa perkiraan seseorang, yang masih dapat diselidiki lebih jauh lagi. Hal terakhir yang pasti terjadi pada bumi dan alam semesta adalah tentang kerusakan bumi, isyarat ilmu kebumian, kiamat, dan lain-lain. Seperti dikutip dalam ayat-ayat berikut : QS Thaahaa (20) : 105 – 107, Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah : Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Lalu Dia membiarkannya rata lagi tandus Engkau tidak melihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi Hidrogeologi merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang salah satu komponen penting dalam kehidupan manusia yaitu air. Dalam Al Qur’an bisa kita dapatkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep hidrogeologi tersebut, mulai dari genesis, identifikasi, siklus, serta pemanfaatan air bagi kehidupan manusia. Al Qur’an menegaskan bahwa air adalah sumber dari kehidupan bagi semua makhluk di jagat raya ini, sebagaimana firman-Nya. QS Al Anbiya : 30, Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit-langit dan bumi itu dahulunya bertautan, lalu kami belah keduanya dan kami jadikan setiap sesuatu yang hidup berasal dari Air. Mengapa mereka tidak percaya ? Dengan penegasan ayat tersebut, maka air mempunyai fungsi vital bagi kehidupan makhluk Allah di dunia, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Air menjadi komponen penting dalam kehidupan, sehingga eksploitasi terhadap sumberdaya air ini harus di-manage dengan baik. Namun untuk me-manage sumberdaya air tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui asal mula air (siklus hidrologi). Allah mempertanyakan kemauan manusia untuk menggunakan akalnya berfikir tentang hal tersebut, seperti dalam firman-Nya. QS Al Waqiah : 68-70, Maka terangkan kepada-Ku tentang air yang kamu minum ! Kamukah yang menurunkan dari awan ataukah kami yang menurunkannya? Kalau kami kehendaki kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? QS Al Mukminun : 18, Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. QS An Nuur : 43, Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan diantara bagian-bagiannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih dan kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah juga menurunkan butiran-butiran es dari langit yaitu dari gumpalan awan seperti gunung-gunung maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Konsepsi tentang siklus hidrologi yang jelas untuk pertama kali diterangkan oleh Bernard Palisy pada tahun 1980. Konsepsi itu mengatakan bahwa air di bawah tanah asalnya dari infiltrasi air hujan. Sains modern berikutnya menjelaskan bahwa siklus hidrologi memberikan penjelasan bahwa air berjumlah relatif konstan, namun terus bersikulasi. Siklus ini dimulai dari evaporasi air akibat panas matahari. Bagian yang mengalami evaporasi adalah air permukaan, air yang berada di lapisan tanah, air di dalam tumbuhan, hewan dan manusia. Uap air akan memasuki atmosfer berubah menjadi awan, dan kemudian berubah bentuk menjadi tetesan-tetesan air yang kemudian jatuh ke bumi sebagai hujan. Air hujan ada yang meresap ke dalam tanah (perkolasi), ada yang masuk ke air permukaan (runoff) menjadi airtanah, ada yang meredap ke tumbuhan. Air permukaan dan air yang lain akan kembali terevaporasi dan berubah menjadi awan, dan terus berulang. Siklus hidrologi memberikan penjelasan juga tentang keterdapatan sumber air. Secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu air permukaan (surface water) dan airtanah (groundwater) yang masing-masing mempunyai karakteristik aliran yang berbeda. Namun secara umum hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an surat Fushilat : 39, ...Dan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila kami turunkan air di atasnya niscaya ia bergerak.. Al Qur’an memberikan pengetahuan bahwa air setelah sampai di tanah akan bergerak, namun dengan sains modern dijelaskan bahwa air akan mengalir dari daerah yang mempunyai muka air tanah tinggi (high water table) menuju daerah dengan muka air tanah yang rendah (low water table), serta dapat pula dikontrol oleh faktor topografi/morfologi. Air permukaan secara lebih jelas diterangkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (2) : 74, ...Dan diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah... Juga dijelaskan dalam QS An Naml (27) : 61, Sebenarnya siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat berdiam dan menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya dan yang menjadikan gunung-gunung yang tangguh di atasnya; dan yang membuat batas pemisah antara dua lautan hingga sungai-sungai yang airnya bergandengan tangan dengan lautan, air yang asin tetap asin dan yang tawar tetap tawar... Secara eksplisit dijelaskan bahwa sungai terbentuk pada zona-zona lemah, yang umumnya berupa rekahan-rekahan yang akan terus tergerus secara kontinyu dan akan terus berkembang menjadi alur-alur yang akan terus berkembang menjadi sungai-sungai. Celah-celah yang dimaksudkan dalam Al Qur’an merupakan cerminan dari struktur geologi, baik berupa sesar ataupun kekar yang secara umum dapat kita sebut sebagai zona lemah. Dijelaskan pula salah satu genesis dari mataair yaitu batu yang terbelah, dengan pengetahuan geologi kita bisa menerangkan secara ilmiah akan hal tersebut, yaitu akibat dari kontrol sesar. Di akhir QS An Naml (27) : 61 dijelaskan tentang muara sungai yang merupakan pertemuan/batas pemisah sungai dengan laut, dimana merupakan batas antara airtawar dengan air asin. Analisis beberapa ayat ini merupakan sebagian kecil dari usaha dan kemampuan kita untuk membaca ayat-ayat Allah berdasarkan keingintahuan tentang airtanah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar